Tuesday, June 4, 2013

NaWilla dan Lupus

NaWilla, by Reda G

Crafting yang telah merajut saya dan NaWilla.

NaWilla itu adalah buku tentang keluarga, teman-teman dekat dan lingkungan tempat NaWilla tinggal. Begitu ringan dan sederhana, beberapa kali saya tergelak lepas dan sisanya tersenyum begitu saja. 

Setelah selesai, saya tercenung. Kapan ya terakhir kali membaca buku seringan ini? Oh ya, beberapa bulan lalu. Saya masih membaca Lupus. Jadi gini, kalau sudah habis bahan bacaan, atau lagi bosen saya membutuhkan "kopi" sebagai penetralnya melalui Lupus. Untuk mendedikasikan buku terbaik sepanjang masa ini, saya kasih nama kucing saya Lupus. 


Entah senasib atau tidak dengan Lupus yang juga terkenal dan fenomenal, hal yang sama juga terjadi pada Lupus kucing saya. Komplek saya yang sepi kucing tiba-tiba penuh sesak sama anak-anak kucing turunan Lupus. Keturunan Lupus sampai diimigrasikan ke kantor papa, ke rumah saudara, ke pasar-pasar. Keturunan Lupus merajalela. Tapi Lupus tidak kapok kawin, dia selalu saja mengikuti kata pheromonnya untuk bunting terus menerus.

Hai NaWilla, Hai Lupus, 2 buku yang memiliki benang merah akan makna ringan, jernih dan sederhana.

Tanya pada rumput yang bergoyang

Jatuh Cinta pada mu Sore
Kesengsem berat dengan mu Senja
Dan Kejora memampiri si Maghrib

Kesempurnaan itu milik Hati
Kebenaran itu Logika punya acara
Kegilaan Cinta itu hanya punya kita

Ngga percaya?
Rumput selalu bisa diajak bergoyang sayang.

Satu Kata: LAWAN!

PERINGATAN. 


.....
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!.
(Wiji Thukul, 1986)

Teringat, terulang kembali tragedi Mei 1998. Saya masih SMP ketika kakak perempuan saya dan teman-temannya merajut asa reformasi. Umi merapal banyak doa agar anaknya kembali dengan selamat. Asap rokok mengabut di ruang TV. TV di rumah tidak pernah hidup selama itu, 24 jam lamanya. Sekali waktu kakak mengabari lewat pesawat telepon "dia kena mi".."dia terluka".."doakan kita terus ya".."anak-anak menolak mundur"....

Lelah dan wanita, kakak saya akhirnya pulang ke rumah, disambut resah luar biasa oleh Umi dan Papa. Kakak saya menuruti panggilan pulang dari Papa karena melihat situasi yang semakin kacau, dan "...Kamu itu perempuan" tutup Papa di telepon. Saya bisa membayangkan kala perebutan kemerdekaan tahun 1945 dulu lebih kacau dari situasi ini. Kakak saya mandi dan berbenah diri, bersandar di meja telepon sambil mata terus mengarah ke TV. 

Sampai telepon itu berdering lagi untuk ke sekian kalinya...kali ini dia memasrahkan pantauan langsungnya kepada gagang telepon. Dan momen itu, ketika matanya mulai sembab, pundaknya berguncang dan akhirnya tangis itu lepas,

                                                                                    
"dia mati Mi, temen Ici mati...".


Gadis itu meraung-raung dalam pelukan Umi. "Kurang ajar, jahaat!!" 

Saya tegang, tergugu dan tidak bisa berkata bahkan menguraikan air mata. Kata-kata kasar tidak pernah keluar dari mulut kecilnya. Detik pahlawan telah lahir kembali.


Kemerdekaan itu Kejam....

Maka reguk dan reguklah kebebasan mu berbicara Wiji yang telah hilang,                               Keberadaan Mu, pelo, kini kembali dicari.
Suaramu kian mahal Wiji, mari kemari...
Jamur-jamur itu menunggu halusinasi bungkam, tirani yang harus tumbang
Karena dia lawan mu dalam berjuang

Alien


Dalam obrolan ringan, seorang kawan beragama melempar isu bahwa Tuhan itu tidak eksis. Semua kejadian demi kejadian terjadi karena kuasa Alien. Setelah mengatakan ini dia minta maaf kepada Nabi Muhammad, Allah, Bunda Maria, Budha dan terpenting Sang Hyang Widhi sambil memberikan senyum lebar.

Alien, saya masih setengah-setengah percaya. Karena di kumpulan benda langit terdekat dengan bumi, Saturnuspun belum terjamah untuk diteliti sampai ke dasar. Apalagi gugus Andromeda yang letaknya super jauh meskipun terhitung sebagai tetangga paling dekat Bima Sakti, -tempat Bumi dan Saturnus ada-. Jadi keberadaan Alien bisa jadi ada. Seperti penemuan beberapa tahun lalu di dasar laut, dengan panas mencapai 150 derajat, tidak ada oksigen, dan pemakaian bahan kimia beracun sekelas Methan sebagai salah satu bahan bakar kehidupannya, mustahal makhluk hidup bisa bertahan. Namun malah ditemukan organisme hidup yang mengandalkan kondisi itu, mereka bahkan bertetangga, berkecamatan dan berkota-kotaan.

Penelitian, laporan saksi mata, buku hingga film menimbulkan pro kontra tentang keberadaan Alien sampai sekarang. Informasi terakhir mengenai Alien saya dapatkan di film bergenre komedi berjudul "Paul". Paul adalah alien yang hidup di gugus Andromeda, dia ternyata sudah teken kontrak dengan "Amerika" sejak puluhan tahun silam untuk ikut berkontribusi memberikan informasi tentang alien, teknologi, kecerdasan dan lainnya. Dengan bertelanjang dada, memakai celana pendek dan sendal jepit, Paul tidak henti-hentinya merokok dan melucu sambil memberikan celetukan-celetukan ringan tentang keberadaan Alien, tentu dengan gayanya yang so Amerika. Paul juga punya kerjaan sampingan, dia ikut memberikan saran kepada salah satu sineas ternama yaitu Steven Spielberg dalam film E.T nya.

Steven, berkonsultasi dengan Paul untuk debut filmnya. Film E.T sukses besar.

Kembali ke rekan saya itu, dia percaya dengan keberadaan Alien yang super cerdas. Keberadaan manusia melalui kloning adalah salah satu bentuk teknologi "kuno" yang dimiliki alien untuk menciptakan kita, katanya. 

Kata saya "Kloningan memiliki keterbatasan akut. Dan hanya Tuhan yang sanggup membuat manusia berjiwa asli, bukan assun (asal suntik)...".
Lanjut saya, "Ya karena karena kloning terbatas akan sifat dasarnya saja, bukan pengalamannya", Dan Film tentang kakunya kloners diceritakan dengan bagus di "Cloud Atlas". 
Saya tutup "Titipkan aku 10 kloningan kamu, aku pasti minta tambah versi aslinya".

Dia tertawa ngakak sampai semburat merah di pipinya yang sawo matang terlihat. 
Jieee, GR.

Bangkrut Informasi



Seminggu lalu, saya pergi ke museum-museum di Jakarta. 2 museum saja tepatnya setelah berkurang dari target 3 museum karena Jakarta macret kacrut di mana-mana.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi dan Museum Sumpah Pemuda, Monas batal. 

Saya kirim pesan pendek kepada kawan sebelum berangkat "Hari ini mau menjelajah kaburnya sejarah proklamasi". Sejarah yang selalu tidak pernah terceritakan dengan baik. Sejarah yang compang camping di sana sini. Tertambal sulam dan benangnya selalu saja kusut. Saya membaca sejarah melalui perca cerita dari mulut ke mulut dan coretan-coretan lepas para penulis.

Setelah selesai menjelajah, hati saya panas, mata saya berdebu, kening saya berkerut. Sedih sekali rasanya. Saya kirim pesan lagi, "Menyedihkan saya baru tau kalau...." dan curhatan kekesalan ditutup dengan "apalagi yang saya nggak tau ya ". 

Ya, menyedihkan...saya penduduk aseli Jakarta tidak mengetahui keberadaan Museum ini. Saya sebagai rakyat yang mencicipi nikmatnya kemerdekaan hanya berfikir bahwa tempat ini hnayalah gedung tua kosong yang tidak bisa bercerita. Saya selalu merasa cukup tahu dengan cerita kelam sejarah bangsa ini, tempat-tempat bersejarahnya, dan barang antik di Jakarta. Tapi hanya untuk Gedung Sumpah Pemuda yang sederatan dengan kampus saya, yang dengan seringnya saya jalan ke kwitang dan muter-muter TIM sambil mampir sebentar di Jalan Surabaya membuat saya sudah merasa menggenapi daerah Tjikini yang Kramat.

Dia balas, "semakin kamu tahu banyak kamu akan semakin sadar sebenarnya yang kamu tahu tidak banyak. Semakin kamu tidak banyak tahu, semakin kamu tidak tahu bahwa kamu tidak tahu apa-apa"...Rasa sedih ini terus berlanjut, saya merasa mendadak bangkrut informasi. Terlebih informasi telanjang seperti ini. 

"pilih tahu atau tempe" tutupnya, saya balas "yang pasti bukan susu kedelai"...

KreotKreot


Siang ini Saya kelaparan, jadi saya melipir dulu ke warteg sebelum sampai kantor. 
Setelah menyapa orang seisi kantor, yang baru ada dua, saya lanjut buka bungkus makanan dan makan dengan semangat. Sampai ditanya "Makannya seru bener, makan siang atau sekalian sarapan?". Makanannya telor balado, tahu goreng, sayur toge dan krupuk. Nggak ada yang spesial, yang spesial hanya rasa lapar saya yang terlihat begitu memukau.


"kreot kreot" seperti mengikuti suara warga galia yang sedang berpesta celeng dalam suka cita

BB~BukuBagus~BukuBaik


Saya diajak Papa ke Taman Ismail Marzuki (TIM), ketemu dengan teman-temannya di warung makan, bertanya kabar sambil ketawa-ketawa sejenak. Papa saya ketika itu masih merokok dan ngopi. Semua teman-temannya juga sama, jadi asap rokok seperti kabut di daerah puncak. Dentingan gelas kopi bersautan dengan tawa-tawa lepas. Saya dari kecil sudah biasa menjadi perokok pasif. Menyedihkan. 

Menjelang pulang mampir dulu ke Bengkel Buku TIM, toko buku bekas. Saya langsung masuk dan liat-liat buku. Saya pribadi lebih suka cari buku ke toko buku bekas, terutama buku-buku yang tidak dicetak lagi atau buku yang dilarang terbit. Bentuk dan bau dari bukunya adalah waktu. Kertasnya kadang menguning. Semakin menguning kertasnya, untuk saya, buku itu semakin berharga. Kertas menguning itu seharusnya sudah melampaui banyak masa. 

Papa saya stand by di luar, asik ngobrol sama temennya yang lagi ngaso di dipan bambu depan bengkel bukunya. Setelah selesai ambil beberapa buku, saya keluar, siap membayar.

“iya nih, anak saya ulang tahun ke 17, katanya mau cari buku bagus di sini” kata papa.

“udah dapet buku bagusnya?” tanya si Om

Saya jawab, “lumayan Om”. Dia melihat beberapa buku yang saya ambil.

“tunggu sebentar ya”, si Om masuk ke tokonya sebentar dan keluar sambil bawa buku bekas, ukuran sedang, berwarna pink. “nih buku bagus” bukunya saya sambut, sambil bilang makasi. Saya lihat di cover bukunya ada gambar anak gembala, sambil megang sapi. Judulnya Anak Tani karya Laura Ingalls Wilder. Tipikal buku anak-anak seperti lima sekawan.

Di lembar depan Om Jose titip note “kedewasaan bukan berarti tidak menjadi anak-anak kan?selamat ulang tahun ke 17"...kira-kira begitu. Untuk kesekian kali, ungkapan bagus untuk buku dan notesnya adalah benar.

Beberapa waktu setelahnya, buku itu berpindah tangan dan hilang. Saya sedih karena saya ngga pernah lagi liat versi Anak Tani dalam bentuk bekas. Kalaupun dalam bentuk baru adanya seri Laura yang lain, dan sudah tercetak baru. Ceritanya pun sudah dibagi-bagi berdasarkan sub judul dan full gambar. Mana saya ngga hapal temanya apa aja. Saya bingung.

Tapi Tuhan itu baik, setelah mencoba mencari, Anak Tani sudah kembali dalam balutan sampul plastik keras walaupun tanpa note sweet seventeen di lembar pertamanya. Hanya tertera “property of Mrs. Susaan Manuel”.

Yes, buku bekas

When you are down to nothing, GOD is up to something -zen philosophy-

Olahraga Hati


Pagi ini rasanya senyum dikulum saja, beberapa teman apdet status tentang kekesalannya dengan berbagai macam sebab. Saya mau signout dari grup kayanya ngga pas, saya mau delete contactnya ngga bener juga, seperti memutus tali silaturahmi. Lalu saya biarkan. Saya biarkan hati dan otak ini berolahraga dalam ragam keikhlasan. Saya juga mau curhat kok =) 

Sampai sahabat saya ngobrol tentang aktivitasnya di pagi ini. Di pagi ini dia sudah kirim foto terbaru yang ada dia dan pantai. "jangan ngiri ya, nanti kita mau diving". Berasa ditampar sama sirip pari “ya irilah. Jelas, obvious”. Saya text demikian.



Terakhir lebaran tahun lalu saya ke laut di daerah Sumur-Ujung Kulon. Sepertinya baru ya? Menjadi lama terasa karena saya suka laut. Suka dengan campuran warna langit dan air yang menyatu di satu titik. Suka dengan campuran air dan pasir yang membuat kulit terasa sehat dan perih bersamaan. Suka dengan teriknya matahari. Suka dengan keindahan dalam lautnya. Suka dengan kebebasan yang ditawarkan alam. 

Tapi saya tidak tertarik dengan rasa asinnya air laut.

Saya pejamkan mata...saya coba resapi setiap detail asa saya pada laut. Debur ombaknya? ya..menderu dengan lembut di pagi hari. Gulungan ombaknya terpantul sinar matari, menjadi cantik dan rupawan. Gagah. Pecahan ombaknya, gemulai. Saya berlari, berteriak dan menghempaskan diri ke laut begitu saja. 

Laut layaknya kopi, memiliki citra magis untuk saya.... 

Lalu kemballi mengetik si dia...saya suka laut, saya suka alam dan kamu tau itu.

memories


Sepagi ini jam 6.00 teng, ketika sekolah dulu sudah mandi dan pakai baju seragam. Sudah makan pagi dan menunggu kiriman susu segar yang lemaknya membuat saya harus menutup hidung karena tidak tahan dengan baunya. Ok, ready to go. Tapi biasanya sebelum sampai di ujung komplek terdengar panggilan umi "belom bedakan ya dek? bedakan duluuu". Tergopoh-gopoh, bedak bayi dipupurkan secara merata ke muka

Sepagi ini jam 6.00 teng, ketika kuliah dulu lagi siap-siapin bahan kuliah. Belum mandi dan gosok gigi, apalagi makan pagi. Maklum anak kost, merasa bahagia dan bebas menentukan waktu. Sarapan paporit adalah bubur madura, “makan di tsini dek?” dengan logat madura kental. “Bubur setengah bang” sambil ngambil sate 5 tusuk. Nggak ada tuh si susu segar pake lemak, jaman-jaman jahiliyah selesai sudah. Sampai di kampus biasanya “hmmm gw tau nih siapa yang dateng, Josi ya?” biasa sudah kentara bau bayinya. Saya hobi pake bedak bayi di badan dan bukan di muka.

Sepagi ini jam 6.00 teng, ketika sudah menikah saya kembali memiliki rutinitas pasti, membuka pager rumah untuk menyilahkan suami bekerja lebih pagi. Setelah itu menyapu serakan daun-daun ketapang di depan rumah dan siap-siap membereskan kamar. Meja rias sudah beberapa waktu tidak disentuh, tidak ada perubahan, karena fungsi utamanya hanya untuk merias kamar bukan untuk merias diri. Saya melihat beberapa alat kosmetik yang sudah dibeli dari tahun lalu dan isinya masih saja penuh. Saya lihat ke dalam tas, bedak muka dewasa berkurang setengahnya, kemajuan. Bedak bayi hanya untuk bayi, anak-anak dan nenek-nenek. Bukan orang dewasa.

Kembali mengingat umi yang tentunya selalu berbedak dan bergincu, memanggil dan selalu mengingatkan pentingnya perempuan merias diri.

Saya tidak masak dulu, ajojing pending dulu, saya buka laptop sisa kerja semalam, mulai mengetik...



Feb-21-2013

KAMU!

Dan lagi-lagi kamu....memberangus sekian kalinya ketenangan hati dan keliaran imajinasi.
Karena kamu, saya terjalin dengan Kamu lainnya dan lainnya.
Sampai bosan, kembalinya hanya lagi-lagi ke Kamu.

Menyesal. Sungguhan...Baru kali ini saya menyesal terhadap keputusan yang saya ambil.

*meludah...berteriak...menjambak...menggila....dan menghantam kasur.

Thursday, January 31, 2013

Jalangkung Jalangse



Saya mencintainya begitu saja. Datang begitu saja. Seperti tag linenya jalangkung “datang tak diundang, pulang tak diantar”.

Percayalah, cinta itu ada. Percayalah cinta itu menyehatkan. Banyak saraf-saraf yang bekerja aktif ketika cinta itu datang. Not a guilty pleasure, but believe me, it includes many time.

Pulangnya tak diantar?, karena memang dia pergi begitu saja. Tanpa permisi. Terus mau apa?another guilty pleasure has guided me for the first action. Saya mendapatkannya di waktu yang benar-benar salah.

Menyesal?tidak juga. Im happy and glad to have it.

love aint supposed to be wrong, the mistakes is pointing on us

Monday, January 14, 2013

love gardening a lot



Saya suka sekali berkebun. Dimulai dengan melihatnya, menghirup udara terbaik yang diberikan tanaman,  tanaman mana yang bisa saya perbaiki. Adalah langkah-langkah awal sebelum akhirnya saya larut dalam serunya berkebun. Mana daun-daun tua yang sudah harusnya digunting dan dipotong. Tanaman mana yang sudah seharusnya dipecah dan semuanya.

Awalnya?saya sangat amat terpaksa untuk melakukan itu semua. Terimakasih untuk Papa, yang dengan kegarangannya membuat saya terpaksa menginjak tanah becek, merasakan tanah yang sehat dan yang sakit, terluka kena pecahan benda tajam yang terkandung dalam tanah atau karena pecahan pot, kuku yang menghitam, peluh keringat karena melakukannya hampir siang dan kecapean mengangkat dan mengeluarkan tanaman untuk dipindahkan ke tempat yang telah disediakan dan terakhir memegang cacing seperti binatang yang tidak menggelikan.

Kini, saya kecanduan. Ritual berkebun yang bisa dimulai dengan menggemburkan tanah dengan pupuk alami dari daun-daun kering, memindahkan cacing dari satu tempat ke tempat lain yang membutuhkan perannya, memecah tanaman ketika sudah hidup dengan sesak adalah momen terpenting dalam berkebun. Menyiramnya adalah momen penting terakhir. Kadang saya berharap hujan bisa menggantikan peran saya ketika tidak sempat nyiram.

Di rumah Papa semua tanaman hidup dengan subur, walaupun hanya jenis tanaman tertentu yang bisa hidup, mengingat rumah kami yang terkena matahari sore. Suplir adalah pagar tanaman di rumah kami. Begitu cantik, besar dan meneduhkan.

Sekarang saya merasakan berkebun adalah bagian terpenting untuk membuat saya menghargai lingkungan. Lingkungan adalah alasan saya berfikir mengapa hidup itu penting.

Saya lebih memilih memiliki tanaman di tanah daripada di pot. Karena tanaman akan lebih leluasa menghisap sari-sari terbaik yang diberikan tanah. Tanaman akan tumbuh lebih subur dan tanahpun akan senang. Banyak area resapan air untuknya. Saya dan tanah berbagi, saya dan lingkungan ikut sehat. 

Pada tahapan ini saya merasa telah berusaha untuk menjadi manusia yang cukup adil. Saya berusaha untuk berbagi dengan alam. Tapi saya masih belum memiliki lubang biopori, sumur resapan dan masih belum bisa memilah sampah secara konsisten.

Many many thank to Allah, that has created nature and my Papa. 

Gardening is how I relax, and you?


i'm addicted to you, love


.....
Kalau orang bisa melihat betapa kriteria seseorang yang cantik, solehah, cerdas, berasal dari keturunan yang jelas kemudian berpasangan dengan laki-laki yang juga sesempurna dirinya, namun hubungannya berakhir dengan kisah romantis yang ternyata tidak lagi manis. Apakah salah kalau saja dikatakan cinta memang pemilih?
.....

Katakan Rana, wanita dengan keseluruhan kesempurnaan perempuan di dalamnya. Menjalin hubungan dengan Radith, lelaki dengan setengah kesempurnaan si wanita. Semua orang berhak menilai, bahwa Radith adalah pria beruntung. Tapi semua orangpun berhak menghakimi ketika Radith diketahui menyudahi hubungannya dengan Rana hanya karena, tidak ada lagi cinta, atau beda prinsip.

Salah siapa?Anda berhak menilai.

Meno laki-laki dengan mental pemarah, perawakan tinggi besar, suka bertualang dan hobinya begadang, Nafasnya bau karena bersahabat dengan kopi dan rokok. Tidak ada yang salah sepertinya kecuali mental pemarah dan nafasnya yang kurang sedap. Memiliki hubungan setia dengan perempuan lemah lembut, penakut dan juga sedikit lemot. Sandra.

Siapa yang tidak beruntung?

Lala, wanita berkebutuhan khusus, jago berhitung, emosi tidak terkontrol dan mata beradu. Dilengketi oleh Sarno, lelaki polos, kulit sawo matang, ramah dan juga alim. Terlihat mesra dan bahagia akhir hayat.

Siapa yang beruntung?

Terakhir, Woro, lelaki dengan keimanan di atas rata-rata, menikahi perempuan dengan tingkat keimanan yang juga di atas rata-rata, sebut saja Wening. Namun juga masih mencari bentuk kesempurnaan lain di luar sana. Wening seakan tidak tahu dan merasa pasangannya tidak mungkin seperti itu, karena keimanan yang menjaganya. Tapi, Wening membuat suasana rumah kering, kata Woro.

Saya tidak mau memasukkan unsur kekerasan di sini. Kekerasan merupakan sinonim dari tidak ada yang perlu lagi dikejar apabila 
sudah terjadi hingga kedua kalinya. Kecuali pasangan kita sakit dan terbukti membutuhkan pengobatan dan -yang terpenting- dia mau mengikuti pengobatan tersebut.  Kekerasan akan saya bahas dalam tulisan lain, kalaupun ada keterdesakkan ke arah sana. Karena sudah waktunya manusia  menyadari bahwa kekerasan hanya bentuk lain dari tidak adanya pikiran yang sehat. Baik kekerasan secara fisik dan juga verbal. Dan verbal, bentuk kekerasan yang sering tidak kita sadari dampak buruknya.


Semua itu, contoh asal yang saya buat, hanyalah sedikit dari contoh benar yang juga jauh lebih sakit di luar sana. Menurut saya, kita tidak perlu menilai akan kebahagiaan orang lain berdasarkan kaca mata kita pribadi dan berdasarkan standar kesempurnaan manusia pada umumnya. Kembali dan lalu menyadari serta menghormati pilihan hati kita. Menjaganya untuk memilih kebahagiaan lebih sulit dibandingkan memaksa saudara kembarnya mempreteli mengapa alasan bahagia itu ada.

Temukan dengan indah dan juga logis mengapa pasangan Anda membahagiakan Anda. Mengapa cintanya layak untuk dikejar dan mengapa bersamanya adalah segenggam kebahagiaan yang tidak dapat terukur dengan zat apapun di dunia ini. Terasa lebay?tak apa, cinta memang seharusnya lebay.

Satu titipan dari kawan, bahwa apabila cinta itu berawal dengan rasa yang menggebu-gebu dan juga kuat bahkan menggembirakan hingga sesak nafas, maka akan berjalan seperti itu dan apabilapun berakhir, akhirnya akan terasa sama seperti peng-awalnya. Begitupun dengan cinta yang terasa pelan, pasti dan sesak nafas berkurang. Cinta itu akan berjalan dengan lembut. Apabila berakhir, kalau bisa jangan berakhir...somehow saya rasa itu benar.

Lagi gak ada bingkai yang jelas sebenernya, tapi karena sudah coba komit dengan tulis menulis, cinta sepertinya lebih mudah untuk dituangkan. Karena cinta adalah perjalanan seumur hidup. Saya pernah merasakan  cinta setinggi langit dan meledak-ledak hingga melewati atmosphere dan juga cinta yang hambar sampai kalaupun angin lewat, yang terasa hanya kering hawanya saja. Beruntung sudah pernah berada di dua sisi itu. Kalau belum pernah sakit karena cinta, maaf Anda melewatkan momen paling membahagiakan di muka bumi. Jangan juga sampai bunuh diri, karena masalah Anda jadi lipat dua, masalah dengan dunia yang Anda tinggalkan tidak selesai lalu ditambah masalah dengan Tuhan, yang sudah menunggu di ujung sana dengan raut muka kecewa.

-“Cinta yang Ku beri, tidak bisakah kau perlakukan dengan layak?”-

very early, me and radio

HUJAN


Hujan A beautiful gift sent from above. Berucap syukur tiada henti. Karena hujan yang memungkinkan perenungan menjadi optimal lebih cepat dibandingkan di gurun. Hujan bisa membuat hati yang panas menjadi tambah panas karena kehujanan dan membuat tidur malam menjadi semakin sempurna kalau saja genteng bocor dan PR karena berada di daerah rawan banjir.

Namun, hujan itu terasa sangat diingini dan berharap tiada pernah selesai, jika:

a.       Duduk selonjoran di sofa, dengan selimut setinggi paha, jendela dibuka lebar-lebar, minuman hangat (saya prefer kopi), bacaan, musik pendukung perasaan saat itu dan juga aroma dari kebun mungil hasil berkebun pribadi, dengan melati yang sedang berbunga pesat. Kemudian aroma melatinya berbaur dengan aroma hujan dan masuk melalui jendela, sampai ke hidung dan menjadi penutup relaksasi. Ada binatang peliharaan?jangan ditolak, karena sifatnya menyempurnakan. Aku sebut, prefecto to yo.

b.       Duduk selonjoran di sofa, dengan selimut menutup hingga leher, jendela dibuka lebar-lebar, majalah+musik/nonton film pendukung perasaan saat itu. Ditutup dengan aroma dari kebun mungil hasil berkebun pribadi, dengan melati yang sedang berbunga pesat. Kemudian aroma melatinya berbaur dengan aroma hujan dan masuk melalui jendela, sampai ke hidung dan menjadi penutup relaksasi. Ada binatang peliharaan?jangan ditolak, karena sifatnya menyempurnakan. Aku sebut, prefecto to yo to.

c.        Duduk tegap di bangku, menghadap laptop. Ditemani dengan secangkir, ooops, segelas kopi cream hangat. Ide berdatangan, bingkai tulisan terlihat jelas. Musik dari rintikan hujan sepertinya cukup. Ada binatang peliharaan?jangan ditolak, karena sifatnya menyempurnakan. Aku sebut, prefecto to yo.
    
    d.       Duduk sambil menatap jendela yang dikenai air hujan, pakai kemeja super besar, dan berdoa agar perasaan ngga jelas ini cepat mendapatkan  sinar matahari yang lebih suka melirik. Saya sebut ini galau. Tidak disarankan berlama-lama merenung ketika musim hujan, kecuali benar2 memahami masalahnya. 

Saya sendiri bukan pecinta hujan. Namun saya mencintai momen-momen berharga di dalamnya. Momen untuk kembali bersyukur dan meresapi indahnya arti hidup. 

-Karena hujan membawa banyak kesempatan untuk apapun hidup bersamanya-

2nd consistency, 00:22, hujan lebat.

Friday, January 11, 2013

Love to read, love to write


Love to read, love to write

akhirnya, finally....saya mengikuti saran teman untuk mulai menulis. menulis di salah satu situs, untuk ajang pembelajaran dan publisitas diri katanya. 
"perlu ya?"saya tanya
"minimal tulisannya keluar dari laptop"

oke, saya ngerti. Jadi tulisan ngga lagi hanya mondar mandir di laptop dan dibaca berkali-kali, terus edit sana sini, sampai akhirnya masuk bagian deletasi. Dan dilakukan sendiri, tanpa bantuan screening dari pihak luar. Hanya saya dan tulisan. Mringis romantis

beberapa teman dan saudara terdekat sudah mulai dan lama menulis, bahkan memiliki publisitas dan akhirnya menjadi pemasukan utama. Hobi yang menyehatkan lahir bathin. Saya iri beneran. Saya suka membaca dan menulis. Walaupun bacaan saya terbatas karena sangat bergantung dengan aliran tulisan si penulis. 

Buat saya membaca adalah momen untuk bisa melihat sesuatu hanya dari sebuah tulisan. dan merasakan apa yang sebenarnya penulis ingin sampaikan. Makanya aliran tulisan menjadi point penting setelah ide cerita. buat saya membaca adalah momen terbaik untuk memberikan boosting vitamin tubuh. Apalagi kalau bacanya di sofa sambil ditemenin sama kopi/minuman hangat dan hujan. Membaca terasa seperti a long life journeyReading is me time.

Lalu hubungannya dengan menulis?

Teman saya,

"kalau banyak baca, nulis jadi mudah"
sebelumnya saya bilang
"saya kesulitan membingkai tulisan saya, mau diarahin kemana"

Masalahnya mungkin memang di bacaan saya yang kurang variatif. jadi saya terbiasa dengan penulis yang sama dan bertahan untuk terus membaca karya tulisannya berulang kali sampai karya berikutnya muncul. Sehingga saya sulit untuk mendapatkan ide segar dalam porsi besar. Menyedihkan dude, selera saya terhadap tulisan terlalu sempit. 

So resolusinya:
1. membaca buku dengan pengarang yang kurang enak dibaca aliran tulisannya, dengan harapan saya bisa dapat info lain dengan cara tersiksa. Remember, “life begins at the end of your comfort zone”
2. membaca dan mendalami isu ketertarikan pribadi setiap harinya
3. mendengar dan melihat masalah-masalah di sekitar dengan cuping telinga lebih runcing





Terakhir adalah bingkai tulisan. Saya bener-bener kesulitan dengan bingkainya..
“tulis aja apapun, biarkan mengalir, nanti juga dapet kok”

Menarik, karena 10 dari 10 orang yang ditanya memiliki jawaban yang sama.
Saya rasa itu warning terakhir saya. Pertanyaan tentang tulisan ke orang yang ke 11 dan seterusnya sudah harus lebih variatif.

Jadi bisa ditarik simpulan alasan saya belum juga mulai menulis padahal saya pengen jadi penulis:
1. menunda-nunda menulis
2. kalaupun akhirnya nulis, saya tidak menyelesaikan tulisan yang sudah ada
3. ide yang bertaburan tapi ngga tau memilah dan membingkainya dalam sebuah kerangka tulisan yang jelas
4. khawatir tulisannya akan diberikan kritik hingga tidak diterima karena aliran tulisannya ngga enak dibaca
5. inkonsistensi, virus alam layaknya "setelah makan ngantuk".

Publisitas itu yang akhirnya membuat saya takut. saya takut kata-kata manis untuk tulisan saya sangat sedikit bila dibandingkan dengan kata asinnya. Saya pede di belakang layar untuk leluasa menuangkan pemikiran saya. Terlebih tulisan yang berbentuk artikel/penelitian. Itu jauh lebih mudah buat saya tulis.

Cita-cita saya tidak sesimpel prosesnya:
Bekerja di rumah. Menjadi penyelam dan peneliti sekaligus. Berperan dalam aksi lingkungan hidup dan juga pendidikan anak-anak. Semuanya melalui tulisan

Akhir kata, kata-kata Bapak ini yang benar-benar membuat saya harus menulis, agar tidak hilang dari masyarakat dan sejarah.

"Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian" (Pramoedya Ananta Toer)


Sekian dari saya, semoga saya bisa konsisten untuk melakukan publisitas diri dan mulai berani untuk menerima masukan yang manis2 dan asin2. Dan juga bisa sebagai ajang berbagi masukan dan informasi untuk semua. Semoga bermanfaat


-12012013/03:09-