Monday, January 14, 2013

i'm addicted to you, love


.....
Kalau orang bisa melihat betapa kriteria seseorang yang cantik, solehah, cerdas, berasal dari keturunan yang jelas kemudian berpasangan dengan laki-laki yang juga sesempurna dirinya, namun hubungannya berakhir dengan kisah romantis yang ternyata tidak lagi manis. Apakah salah kalau saja dikatakan cinta memang pemilih?
.....

Katakan Rana, wanita dengan keseluruhan kesempurnaan perempuan di dalamnya. Menjalin hubungan dengan Radith, lelaki dengan setengah kesempurnaan si wanita. Semua orang berhak menilai, bahwa Radith adalah pria beruntung. Tapi semua orangpun berhak menghakimi ketika Radith diketahui menyudahi hubungannya dengan Rana hanya karena, tidak ada lagi cinta, atau beda prinsip.

Salah siapa?Anda berhak menilai.

Meno laki-laki dengan mental pemarah, perawakan tinggi besar, suka bertualang dan hobinya begadang, Nafasnya bau karena bersahabat dengan kopi dan rokok. Tidak ada yang salah sepertinya kecuali mental pemarah dan nafasnya yang kurang sedap. Memiliki hubungan setia dengan perempuan lemah lembut, penakut dan juga sedikit lemot. Sandra.

Siapa yang tidak beruntung?

Lala, wanita berkebutuhan khusus, jago berhitung, emosi tidak terkontrol dan mata beradu. Dilengketi oleh Sarno, lelaki polos, kulit sawo matang, ramah dan juga alim. Terlihat mesra dan bahagia akhir hayat.

Siapa yang beruntung?

Terakhir, Woro, lelaki dengan keimanan di atas rata-rata, menikahi perempuan dengan tingkat keimanan yang juga di atas rata-rata, sebut saja Wening. Namun juga masih mencari bentuk kesempurnaan lain di luar sana. Wening seakan tidak tahu dan merasa pasangannya tidak mungkin seperti itu, karena keimanan yang menjaganya. Tapi, Wening membuat suasana rumah kering, kata Woro.

Saya tidak mau memasukkan unsur kekerasan di sini. Kekerasan merupakan sinonim dari tidak ada yang perlu lagi dikejar apabila 
sudah terjadi hingga kedua kalinya. Kecuali pasangan kita sakit dan terbukti membutuhkan pengobatan dan -yang terpenting- dia mau mengikuti pengobatan tersebut.  Kekerasan akan saya bahas dalam tulisan lain, kalaupun ada keterdesakkan ke arah sana. Karena sudah waktunya manusia  menyadari bahwa kekerasan hanya bentuk lain dari tidak adanya pikiran yang sehat. Baik kekerasan secara fisik dan juga verbal. Dan verbal, bentuk kekerasan yang sering tidak kita sadari dampak buruknya.


Semua itu, contoh asal yang saya buat, hanyalah sedikit dari contoh benar yang juga jauh lebih sakit di luar sana. Menurut saya, kita tidak perlu menilai akan kebahagiaan orang lain berdasarkan kaca mata kita pribadi dan berdasarkan standar kesempurnaan manusia pada umumnya. Kembali dan lalu menyadari serta menghormati pilihan hati kita. Menjaganya untuk memilih kebahagiaan lebih sulit dibandingkan memaksa saudara kembarnya mempreteli mengapa alasan bahagia itu ada.

Temukan dengan indah dan juga logis mengapa pasangan Anda membahagiakan Anda. Mengapa cintanya layak untuk dikejar dan mengapa bersamanya adalah segenggam kebahagiaan yang tidak dapat terukur dengan zat apapun di dunia ini. Terasa lebay?tak apa, cinta memang seharusnya lebay.

Satu titipan dari kawan, bahwa apabila cinta itu berawal dengan rasa yang menggebu-gebu dan juga kuat bahkan menggembirakan hingga sesak nafas, maka akan berjalan seperti itu dan apabilapun berakhir, akhirnya akan terasa sama seperti peng-awalnya. Begitupun dengan cinta yang terasa pelan, pasti dan sesak nafas berkurang. Cinta itu akan berjalan dengan lembut. Apabila berakhir, kalau bisa jangan berakhir...somehow saya rasa itu benar.

Lagi gak ada bingkai yang jelas sebenernya, tapi karena sudah coba komit dengan tulis menulis, cinta sepertinya lebih mudah untuk dituangkan. Karena cinta adalah perjalanan seumur hidup. Saya pernah merasakan  cinta setinggi langit dan meledak-ledak hingga melewati atmosphere dan juga cinta yang hambar sampai kalaupun angin lewat, yang terasa hanya kering hawanya saja. Beruntung sudah pernah berada di dua sisi itu. Kalau belum pernah sakit karena cinta, maaf Anda melewatkan momen paling membahagiakan di muka bumi. Jangan juga sampai bunuh diri, karena masalah Anda jadi lipat dua, masalah dengan dunia yang Anda tinggalkan tidak selesai lalu ditambah masalah dengan Tuhan, yang sudah menunggu di ujung sana dengan raut muka kecewa.

-“Cinta yang Ku beri, tidak bisakah kau perlakukan dengan layak?”-

very early, me and radio

No comments:

Post a Comment