Friday, January 11, 2013

Love to read, love to write


Love to read, love to write

akhirnya, finally....saya mengikuti saran teman untuk mulai menulis. menulis di salah satu situs, untuk ajang pembelajaran dan publisitas diri katanya. 
"perlu ya?"saya tanya
"minimal tulisannya keluar dari laptop"

oke, saya ngerti. Jadi tulisan ngga lagi hanya mondar mandir di laptop dan dibaca berkali-kali, terus edit sana sini, sampai akhirnya masuk bagian deletasi. Dan dilakukan sendiri, tanpa bantuan screening dari pihak luar. Hanya saya dan tulisan. Mringis romantis

beberapa teman dan saudara terdekat sudah mulai dan lama menulis, bahkan memiliki publisitas dan akhirnya menjadi pemasukan utama. Hobi yang menyehatkan lahir bathin. Saya iri beneran. Saya suka membaca dan menulis. Walaupun bacaan saya terbatas karena sangat bergantung dengan aliran tulisan si penulis. 

Buat saya membaca adalah momen untuk bisa melihat sesuatu hanya dari sebuah tulisan. dan merasakan apa yang sebenarnya penulis ingin sampaikan. Makanya aliran tulisan menjadi point penting setelah ide cerita. buat saya membaca adalah momen terbaik untuk memberikan boosting vitamin tubuh. Apalagi kalau bacanya di sofa sambil ditemenin sama kopi/minuman hangat dan hujan. Membaca terasa seperti a long life journeyReading is me time.

Lalu hubungannya dengan menulis?

Teman saya,

"kalau banyak baca, nulis jadi mudah"
sebelumnya saya bilang
"saya kesulitan membingkai tulisan saya, mau diarahin kemana"

Masalahnya mungkin memang di bacaan saya yang kurang variatif. jadi saya terbiasa dengan penulis yang sama dan bertahan untuk terus membaca karya tulisannya berulang kali sampai karya berikutnya muncul. Sehingga saya sulit untuk mendapatkan ide segar dalam porsi besar. Menyedihkan dude, selera saya terhadap tulisan terlalu sempit. 

So resolusinya:
1. membaca buku dengan pengarang yang kurang enak dibaca aliran tulisannya, dengan harapan saya bisa dapat info lain dengan cara tersiksa. Remember, “life begins at the end of your comfort zone”
2. membaca dan mendalami isu ketertarikan pribadi setiap harinya
3. mendengar dan melihat masalah-masalah di sekitar dengan cuping telinga lebih runcing





Terakhir adalah bingkai tulisan. Saya bener-bener kesulitan dengan bingkainya..
“tulis aja apapun, biarkan mengalir, nanti juga dapet kok”

Menarik, karena 10 dari 10 orang yang ditanya memiliki jawaban yang sama.
Saya rasa itu warning terakhir saya. Pertanyaan tentang tulisan ke orang yang ke 11 dan seterusnya sudah harus lebih variatif.

Jadi bisa ditarik simpulan alasan saya belum juga mulai menulis padahal saya pengen jadi penulis:
1. menunda-nunda menulis
2. kalaupun akhirnya nulis, saya tidak menyelesaikan tulisan yang sudah ada
3. ide yang bertaburan tapi ngga tau memilah dan membingkainya dalam sebuah kerangka tulisan yang jelas
4. khawatir tulisannya akan diberikan kritik hingga tidak diterima karena aliran tulisannya ngga enak dibaca
5. inkonsistensi, virus alam layaknya "setelah makan ngantuk".

Publisitas itu yang akhirnya membuat saya takut. saya takut kata-kata manis untuk tulisan saya sangat sedikit bila dibandingkan dengan kata asinnya. Saya pede di belakang layar untuk leluasa menuangkan pemikiran saya. Terlebih tulisan yang berbentuk artikel/penelitian. Itu jauh lebih mudah buat saya tulis.

Cita-cita saya tidak sesimpel prosesnya:
Bekerja di rumah. Menjadi penyelam dan peneliti sekaligus. Berperan dalam aksi lingkungan hidup dan juga pendidikan anak-anak. Semuanya melalui tulisan

Akhir kata, kata-kata Bapak ini yang benar-benar membuat saya harus menulis, agar tidak hilang dari masyarakat dan sejarah.

"Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian" (Pramoedya Ananta Toer)


Sekian dari saya, semoga saya bisa konsisten untuk melakukan publisitas diri dan mulai berani untuk menerima masukan yang manis2 dan asin2. Dan juga bisa sebagai ajang berbagi masukan dan informasi untuk semua. Semoga bermanfaat


-12012013/03:09-

No comments:

Post a Comment