Thursday, January 31, 2013

Jalangkung Jalangse



Saya mencintainya begitu saja. Datang begitu saja. Seperti tag linenya jalangkung “datang tak diundang, pulang tak diantar”.

Percayalah, cinta itu ada. Percayalah cinta itu menyehatkan. Banyak saraf-saraf yang bekerja aktif ketika cinta itu datang. Not a guilty pleasure, but believe me, it includes many time.

Pulangnya tak diantar?, karena memang dia pergi begitu saja. Tanpa permisi. Terus mau apa?another guilty pleasure has guided me for the first action. Saya mendapatkannya di waktu yang benar-benar salah.

Menyesal?tidak juga. Im happy and glad to have it.

love aint supposed to be wrong, the mistakes is pointing on us

Monday, January 14, 2013

love gardening a lot



Saya suka sekali berkebun. Dimulai dengan melihatnya, menghirup udara terbaik yang diberikan tanaman,  tanaman mana yang bisa saya perbaiki. Adalah langkah-langkah awal sebelum akhirnya saya larut dalam serunya berkebun. Mana daun-daun tua yang sudah harusnya digunting dan dipotong. Tanaman mana yang sudah seharusnya dipecah dan semuanya.

Awalnya?saya sangat amat terpaksa untuk melakukan itu semua. Terimakasih untuk Papa, yang dengan kegarangannya membuat saya terpaksa menginjak tanah becek, merasakan tanah yang sehat dan yang sakit, terluka kena pecahan benda tajam yang terkandung dalam tanah atau karena pecahan pot, kuku yang menghitam, peluh keringat karena melakukannya hampir siang dan kecapean mengangkat dan mengeluarkan tanaman untuk dipindahkan ke tempat yang telah disediakan dan terakhir memegang cacing seperti binatang yang tidak menggelikan.

Kini, saya kecanduan. Ritual berkebun yang bisa dimulai dengan menggemburkan tanah dengan pupuk alami dari daun-daun kering, memindahkan cacing dari satu tempat ke tempat lain yang membutuhkan perannya, memecah tanaman ketika sudah hidup dengan sesak adalah momen terpenting dalam berkebun. Menyiramnya adalah momen penting terakhir. Kadang saya berharap hujan bisa menggantikan peran saya ketika tidak sempat nyiram.

Di rumah Papa semua tanaman hidup dengan subur, walaupun hanya jenis tanaman tertentu yang bisa hidup, mengingat rumah kami yang terkena matahari sore. Suplir adalah pagar tanaman di rumah kami. Begitu cantik, besar dan meneduhkan.

Sekarang saya merasakan berkebun adalah bagian terpenting untuk membuat saya menghargai lingkungan. Lingkungan adalah alasan saya berfikir mengapa hidup itu penting.

Saya lebih memilih memiliki tanaman di tanah daripada di pot. Karena tanaman akan lebih leluasa menghisap sari-sari terbaik yang diberikan tanah. Tanaman akan tumbuh lebih subur dan tanahpun akan senang. Banyak area resapan air untuknya. Saya dan tanah berbagi, saya dan lingkungan ikut sehat. 

Pada tahapan ini saya merasa telah berusaha untuk menjadi manusia yang cukup adil. Saya berusaha untuk berbagi dengan alam. Tapi saya masih belum memiliki lubang biopori, sumur resapan dan masih belum bisa memilah sampah secara konsisten.

Many many thank to Allah, that has created nature and my Papa. 

Gardening is how I relax, and you?


i'm addicted to you, love


.....
Kalau orang bisa melihat betapa kriteria seseorang yang cantik, solehah, cerdas, berasal dari keturunan yang jelas kemudian berpasangan dengan laki-laki yang juga sesempurna dirinya, namun hubungannya berakhir dengan kisah romantis yang ternyata tidak lagi manis. Apakah salah kalau saja dikatakan cinta memang pemilih?
.....

Katakan Rana, wanita dengan keseluruhan kesempurnaan perempuan di dalamnya. Menjalin hubungan dengan Radith, lelaki dengan setengah kesempurnaan si wanita. Semua orang berhak menilai, bahwa Radith adalah pria beruntung. Tapi semua orangpun berhak menghakimi ketika Radith diketahui menyudahi hubungannya dengan Rana hanya karena, tidak ada lagi cinta, atau beda prinsip.

Salah siapa?Anda berhak menilai.

Meno laki-laki dengan mental pemarah, perawakan tinggi besar, suka bertualang dan hobinya begadang, Nafasnya bau karena bersahabat dengan kopi dan rokok. Tidak ada yang salah sepertinya kecuali mental pemarah dan nafasnya yang kurang sedap. Memiliki hubungan setia dengan perempuan lemah lembut, penakut dan juga sedikit lemot. Sandra.

Siapa yang tidak beruntung?

Lala, wanita berkebutuhan khusus, jago berhitung, emosi tidak terkontrol dan mata beradu. Dilengketi oleh Sarno, lelaki polos, kulit sawo matang, ramah dan juga alim. Terlihat mesra dan bahagia akhir hayat.

Siapa yang beruntung?

Terakhir, Woro, lelaki dengan keimanan di atas rata-rata, menikahi perempuan dengan tingkat keimanan yang juga di atas rata-rata, sebut saja Wening. Namun juga masih mencari bentuk kesempurnaan lain di luar sana. Wening seakan tidak tahu dan merasa pasangannya tidak mungkin seperti itu, karena keimanan yang menjaganya. Tapi, Wening membuat suasana rumah kering, kata Woro.

Saya tidak mau memasukkan unsur kekerasan di sini. Kekerasan merupakan sinonim dari tidak ada yang perlu lagi dikejar apabila 
sudah terjadi hingga kedua kalinya. Kecuali pasangan kita sakit dan terbukti membutuhkan pengobatan dan -yang terpenting- dia mau mengikuti pengobatan tersebut.  Kekerasan akan saya bahas dalam tulisan lain, kalaupun ada keterdesakkan ke arah sana. Karena sudah waktunya manusia  menyadari bahwa kekerasan hanya bentuk lain dari tidak adanya pikiran yang sehat. Baik kekerasan secara fisik dan juga verbal. Dan verbal, bentuk kekerasan yang sering tidak kita sadari dampak buruknya.


Semua itu, contoh asal yang saya buat, hanyalah sedikit dari contoh benar yang juga jauh lebih sakit di luar sana. Menurut saya, kita tidak perlu menilai akan kebahagiaan orang lain berdasarkan kaca mata kita pribadi dan berdasarkan standar kesempurnaan manusia pada umumnya. Kembali dan lalu menyadari serta menghormati pilihan hati kita. Menjaganya untuk memilih kebahagiaan lebih sulit dibandingkan memaksa saudara kembarnya mempreteli mengapa alasan bahagia itu ada.

Temukan dengan indah dan juga logis mengapa pasangan Anda membahagiakan Anda. Mengapa cintanya layak untuk dikejar dan mengapa bersamanya adalah segenggam kebahagiaan yang tidak dapat terukur dengan zat apapun di dunia ini. Terasa lebay?tak apa, cinta memang seharusnya lebay.

Satu titipan dari kawan, bahwa apabila cinta itu berawal dengan rasa yang menggebu-gebu dan juga kuat bahkan menggembirakan hingga sesak nafas, maka akan berjalan seperti itu dan apabilapun berakhir, akhirnya akan terasa sama seperti peng-awalnya. Begitupun dengan cinta yang terasa pelan, pasti dan sesak nafas berkurang. Cinta itu akan berjalan dengan lembut. Apabila berakhir, kalau bisa jangan berakhir...somehow saya rasa itu benar.

Lagi gak ada bingkai yang jelas sebenernya, tapi karena sudah coba komit dengan tulis menulis, cinta sepertinya lebih mudah untuk dituangkan. Karena cinta adalah perjalanan seumur hidup. Saya pernah merasakan  cinta setinggi langit dan meledak-ledak hingga melewati atmosphere dan juga cinta yang hambar sampai kalaupun angin lewat, yang terasa hanya kering hawanya saja. Beruntung sudah pernah berada di dua sisi itu. Kalau belum pernah sakit karena cinta, maaf Anda melewatkan momen paling membahagiakan di muka bumi. Jangan juga sampai bunuh diri, karena masalah Anda jadi lipat dua, masalah dengan dunia yang Anda tinggalkan tidak selesai lalu ditambah masalah dengan Tuhan, yang sudah menunggu di ujung sana dengan raut muka kecewa.

-“Cinta yang Ku beri, tidak bisakah kau perlakukan dengan layak?”-

very early, me and radio

HUJAN


Hujan A beautiful gift sent from above. Berucap syukur tiada henti. Karena hujan yang memungkinkan perenungan menjadi optimal lebih cepat dibandingkan di gurun. Hujan bisa membuat hati yang panas menjadi tambah panas karena kehujanan dan membuat tidur malam menjadi semakin sempurna kalau saja genteng bocor dan PR karena berada di daerah rawan banjir.

Namun, hujan itu terasa sangat diingini dan berharap tiada pernah selesai, jika:

a.       Duduk selonjoran di sofa, dengan selimut setinggi paha, jendela dibuka lebar-lebar, minuman hangat (saya prefer kopi), bacaan, musik pendukung perasaan saat itu dan juga aroma dari kebun mungil hasil berkebun pribadi, dengan melati yang sedang berbunga pesat. Kemudian aroma melatinya berbaur dengan aroma hujan dan masuk melalui jendela, sampai ke hidung dan menjadi penutup relaksasi. Ada binatang peliharaan?jangan ditolak, karena sifatnya menyempurnakan. Aku sebut, prefecto to yo.

b.       Duduk selonjoran di sofa, dengan selimut menutup hingga leher, jendela dibuka lebar-lebar, majalah+musik/nonton film pendukung perasaan saat itu. Ditutup dengan aroma dari kebun mungil hasil berkebun pribadi, dengan melati yang sedang berbunga pesat. Kemudian aroma melatinya berbaur dengan aroma hujan dan masuk melalui jendela, sampai ke hidung dan menjadi penutup relaksasi. Ada binatang peliharaan?jangan ditolak, karena sifatnya menyempurnakan. Aku sebut, prefecto to yo to.

c.        Duduk tegap di bangku, menghadap laptop. Ditemani dengan secangkir, ooops, segelas kopi cream hangat. Ide berdatangan, bingkai tulisan terlihat jelas. Musik dari rintikan hujan sepertinya cukup. Ada binatang peliharaan?jangan ditolak, karena sifatnya menyempurnakan. Aku sebut, prefecto to yo.
    
    d.       Duduk sambil menatap jendela yang dikenai air hujan, pakai kemeja super besar, dan berdoa agar perasaan ngga jelas ini cepat mendapatkan  sinar matahari yang lebih suka melirik. Saya sebut ini galau. Tidak disarankan berlama-lama merenung ketika musim hujan, kecuali benar2 memahami masalahnya. 

Saya sendiri bukan pecinta hujan. Namun saya mencintai momen-momen berharga di dalamnya. Momen untuk kembali bersyukur dan meresapi indahnya arti hidup. 

-Karena hujan membawa banyak kesempatan untuk apapun hidup bersamanya-

2nd consistency, 00:22, hujan lebat.

Friday, January 11, 2013

Love to read, love to write


Love to read, love to write

akhirnya, finally....saya mengikuti saran teman untuk mulai menulis. menulis di salah satu situs, untuk ajang pembelajaran dan publisitas diri katanya. 
"perlu ya?"saya tanya
"minimal tulisannya keluar dari laptop"

oke, saya ngerti. Jadi tulisan ngga lagi hanya mondar mandir di laptop dan dibaca berkali-kali, terus edit sana sini, sampai akhirnya masuk bagian deletasi. Dan dilakukan sendiri, tanpa bantuan screening dari pihak luar. Hanya saya dan tulisan. Mringis romantis

beberapa teman dan saudara terdekat sudah mulai dan lama menulis, bahkan memiliki publisitas dan akhirnya menjadi pemasukan utama. Hobi yang menyehatkan lahir bathin. Saya iri beneran. Saya suka membaca dan menulis. Walaupun bacaan saya terbatas karena sangat bergantung dengan aliran tulisan si penulis. 

Buat saya membaca adalah momen untuk bisa melihat sesuatu hanya dari sebuah tulisan. dan merasakan apa yang sebenarnya penulis ingin sampaikan. Makanya aliran tulisan menjadi point penting setelah ide cerita. buat saya membaca adalah momen terbaik untuk memberikan boosting vitamin tubuh. Apalagi kalau bacanya di sofa sambil ditemenin sama kopi/minuman hangat dan hujan. Membaca terasa seperti a long life journeyReading is me time.

Lalu hubungannya dengan menulis?

Teman saya,

"kalau banyak baca, nulis jadi mudah"
sebelumnya saya bilang
"saya kesulitan membingkai tulisan saya, mau diarahin kemana"

Masalahnya mungkin memang di bacaan saya yang kurang variatif. jadi saya terbiasa dengan penulis yang sama dan bertahan untuk terus membaca karya tulisannya berulang kali sampai karya berikutnya muncul. Sehingga saya sulit untuk mendapatkan ide segar dalam porsi besar. Menyedihkan dude, selera saya terhadap tulisan terlalu sempit. 

So resolusinya:
1. membaca buku dengan pengarang yang kurang enak dibaca aliran tulisannya, dengan harapan saya bisa dapat info lain dengan cara tersiksa. Remember, “life begins at the end of your comfort zone”
2. membaca dan mendalami isu ketertarikan pribadi setiap harinya
3. mendengar dan melihat masalah-masalah di sekitar dengan cuping telinga lebih runcing





Terakhir adalah bingkai tulisan. Saya bener-bener kesulitan dengan bingkainya..
“tulis aja apapun, biarkan mengalir, nanti juga dapet kok”

Menarik, karena 10 dari 10 orang yang ditanya memiliki jawaban yang sama.
Saya rasa itu warning terakhir saya. Pertanyaan tentang tulisan ke orang yang ke 11 dan seterusnya sudah harus lebih variatif.

Jadi bisa ditarik simpulan alasan saya belum juga mulai menulis padahal saya pengen jadi penulis:
1. menunda-nunda menulis
2. kalaupun akhirnya nulis, saya tidak menyelesaikan tulisan yang sudah ada
3. ide yang bertaburan tapi ngga tau memilah dan membingkainya dalam sebuah kerangka tulisan yang jelas
4. khawatir tulisannya akan diberikan kritik hingga tidak diterima karena aliran tulisannya ngga enak dibaca
5. inkonsistensi, virus alam layaknya "setelah makan ngantuk".

Publisitas itu yang akhirnya membuat saya takut. saya takut kata-kata manis untuk tulisan saya sangat sedikit bila dibandingkan dengan kata asinnya. Saya pede di belakang layar untuk leluasa menuangkan pemikiran saya. Terlebih tulisan yang berbentuk artikel/penelitian. Itu jauh lebih mudah buat saya tulis.

Cita-cita saya tidak sesimpel prosesnya:
Bekerja di rumah. Menjadi penyelam dan peneliti sekaligus. Berperan dalam aksi lingkungan hidup dan juga pendidikan anak-anak. Semuanya melalui tulisan

Akhir kata, kata-kata Bapak ini yang benar-benar membuat saya harus menulis, agar tidak hilang dari masyarakat dan sejarah.

"Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian" (Pramoedya Ananta Toer)


Sekian dari saya, semoga saya bisa konsisten untuk melakukan publisitas diri dan mulai berani untuk menerima masukan yang manis2 dan asin2. Dan juga bisa sebagai ajang berbagi masukan dan informasi untuk semua. Semoga bermanfaat


-12012013/03:09-