Seminggu lalu, saya
pergi ke museum-museum di Jakarta. 2 museum saja tepatnya setelah berkurang
dari target 3 museum karena Jakarta macret kacrut di mana-mana.
Museum Perumusan
Naskah Proklamasi dan Museum Sumpah Pemuda, Monas batal.
Saya kirim pesan pendek kepada
kawan sebelum berangkat "Hari ini mau menjelajah kaburnya sejarah
proklamasi". Sejarah yang selalu tidak pernah terceritakan dengan baik.
Sejarah yang compang camping di sana sini. Tertambal sulam dan benangnya selalu
saja kusut. Saya membaca sejarah melalui perca cerita dari mulut ke mulut dan
coretan-coretan lepas para penulis.
Setelah selesai menjelajah, hati saya panas, mata
saya berdebu, kening saya berkerut. Sedih sekali rasanya. Saya kirim pesan
lagi, "Menyedihkan saya baru tau kalau...." dan curhatan kekesalan
ditutup dengan "apalagi yang saya nggak tau ya ".
Ya, menyedihkan...saya penduduk aseli Jakarta tidak
mengetahui keberadaan Museum ini. Saya sebagai rakyat yang mencicipi nikmatnya
kemerdekaan hanya berfikir bahwa tempat ini hnayalah
gedung tua kosong yang tidak bisa bercerita. Saya selalu merasa cukup tahu
dengan cerita kelam sejarah bangsa ini, tempat-tempat bersejarahnya, dan barang
antik di Jakarta. Tapi hanya untuk Gedung Sumpah Pemuda yang sederatan dengan
kampus saya, yang dengan seringnya saya jalan ke kwitang dan muter-muter TIM
sambil mampir sebentar di Jalan Surabaya membuat saya sudah merasa menggenapi
daerah Tjikini yang Kramat.
Dia balas, "semakin kamu tahu banyak kamu akan
semakin sadar sebenarnya yang kamu tahu tidak banyak. Semakin kamu tidak banyak
tahu, semakin kamu tidak tahu bahwa kamu tidak tahu apa-apa"...Rasa sedih
ini terus berlanjut, saya merasa mendadak bangkrut informasi. Terlebih
informasi telanjang seperti ini.
"pilih tahu atau tempe" tutupnya, saya balas
"yang pasti bukan susu kedelai"...
No comments:
Post a Comment