Tuesday, June 4, 2013

Satu Kata: LAWAN!

PERINGATAN. 


.....
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!.
(Wiji Thukul, 1986)

Teringat, terulang kembali tragedi Mei 1998. Saya masih SMP ketika kakak perempuan saya dan teman-temannya merajut asa reformasi. Umi merapal banyak doa agar anaknya kembali dengan selamat. Asap rokok mengabut di ruang TV. TV di rumah tidak pernah hidup selama itu, 24 jam lamanya. Sekali waktu kakak mengabari lewat pesawat telepon "dia kena mi".."dia terluka".."doakan kita terus ya".."anak-anak menolak mundur"....

Lelah dan wanita, kakak saya akhirnya pulang ke rumah, disambut resah luar biasa oleh Umi dan Papa. Kakak saya menuruti panggilan pulang dari Papa karena melihat situasi yang semakin kacau, dan "...Kamu itu perempuan" tutup Papa di telepon. Saya bisa membayangkan kala perebutan kemerdekaan tahun 1945 dulu lebih kacau dari situasi ini. Kakak saya mandi dan berbenah diri, bersandar di meja telepon sambil mata terus mengarah ke TV. 

Sampai telepon itu berdering lagi untuk ke sekian kalinya...kali ini dia memasrahkan pantauan langsungnya kepada gagang telepon. Dan momen itu, ketika matanya mulai sembab, pundaknya berguncang dan akhirnya tangis itu lepas,

                                                                                    
"dia mati Mi, temen Ici mati...".


Gadis itu meraung-raung dalam pelukan Umi. "Kurang ajar, jahaat!!" 

Saya tegang, tergugu dan tidak bisa berkata bahkan menguraikan air mata. Kata-kata kasar tidak pernah keluar dari mulut kecilnya. Detik pahlawan telah lahir kembali.


Kemerdekaan itu Kejam....

Maka reguk dan reguklah kebebasan mu berbicara Wiji yang telah hilang,                               Keberadaan Mu, pelo, kini kembali dicari.
Suaramu kian mahal Wiji, mari kemari...
Jamur-jamur itu menunggu halusinasi bungkam, tirani yang harus tumbang
Karena dia lawan mu dalam berjuang

No comments:

Post a Comment