PERINGATAN.
.....
Apabila usul
ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam
kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!.
(Wiji Thukul, 1986)
Teringat, terulang kembali tragedi Mei 1998. Saya
masih SMP ketika kakak
perempuan saya dan teman-temannya merajut asa reformasi. Umi merapal banyak doa
agar anaknya kembali dengan selamat. Asap rokok mengabut di ruang TV. TV di
rumah tidak pernah hidup selama itu, 24 jam lamanya. Sekali waktu kakak mengabari lewat pesawat telepon
"dia kena mi".."dia terluka".."doakan kita terus
ya".."anak-anak menolak mundur"....
Lelah dan wanita, kakak saya akhirnya pulang ke
rumah, disambut resah luar biasa oleh Umi dan Papa. Kakak saya menuruti
panggilan pulang dari Papa karena melihat situasi yang semakin kacau, dan
"...Kamu itu perempuan" tutup Papa di telepon. Saya bisa membayangkan
kala perebutan kemerdekaan tahun 1945 dulu lebih kacau dari situasi ini. Kakak
saya mandi dan berbenah diri, bersandar di meja telepon sambil mata terus mengarah ke TV.
Sampai telepon itu berdering lagi untuk ke sekian
kalinya...kali ini dia memasrahkan pantauan langsungnya kepada gagang telepon.
Dan momen itu, ketika matanya mulai sembab, pundaknya berguncang dan akhirnya
tangis itu lepas,
"dia
mati Mi, temen Ici mati...".
Gadis itu
meraung-raung dalam pelukan Umi. "Kurang ajar, jahaat!!"
Saya tegang,
tergugu dan tidak bisa berkata bahkan menguraikan air mata. Kata-kata kasar
tidak pernah keluar dari mulut kecilnya. Detik pahlawan telah lahir kembali.
Kemerdekaan itu Kejam....
Maka reguk dan reguklah kebebasan mu berbicara Wiji
yang telah hilang, Keberadaan
Mu, pelo, kini kembali dicari.
Suaramu kian mahal Wiji, mari kemari...
Jamur-jamur itu menunggu halusinasi bungkam, tirani
yang harus tumbang
Karena dia lawan mu dalam berjuang
No comments:
Post a Comment