Tuesday, June 4, 2013

memories


Sepagi ini jam 6.00 teng, ketika sekolah dulu sudah mandi dan pakai baju seragam. Sudah makan pagi dan menunggu kiriman susu segar yang lemaknya membuat saya harus menutup hidung karena tidak tahan dengan baunya. Ok, ready to go. Tapi biasanya sebelum sampai di ujung komplek terdengar panggilan umi "belom bedakan ya dek? bedakan duluuu". Tergopoh-gopoh, bedak bayi dipupurkan secara merata ke muka

Sepagi ini jam 6.00 teng, ketika kuliah dulu lagi siap-siapin bahan kuliah. Belum mandi dan gosok gigi, apalagi makan pagi. Maklum anak kost, merasa bahagia dan bebas menentukan waktu. Sarapan paporit adalah bubur madura, “makan di tsini dek?” dengan logat madura kental. “Bubur setengah bang” sambil ngambil sate 5 tusuk. Nggak ada tuh si susu segar pake lemak, jaman-jaman jahiliyah selesai sudah. Sampai di kampus biasanya “hmmm gw tau nih siapa yang dateng, Josi ya?” biasa sudah kentara bau bayinya. Saya hobi pake bedak bayi di badan dan bukan di muka.

Sepagi ini jam 6.00 teng, ketika sudah menikah saya kembali memiliki rutinitas pasti, membuka pager rumah untuk menyilahkan suami bekerja lebih pagi. Setelah itu menyapu serakan daun-daun ketapang di depan rumah dan siap-siap membereskan kamar. Meja rias sudah beberapa waktu tidak disentuh, tidak ada perubahan, karena fungsi utamanya hanya untuk merias kamar bukan untuk merias diri. Saya melihat beberapa alat kosmetik yang sudah dibeli dari tahun lalu dan isinya masih saja penuh. Saya lihat ke dalam tas, bedak muka dewasa berkurang setengahnya, kemajuan. Bedak bayi hanya untuk bayi, anak-anak dan nenek-nenek. Bukan orang dewasa.

Kembali mengingat umi yang tentunya selalu berbedak dan bergincu, memanggil dan selalu mengingatkan pentingnya perempuan merias diri.

Saya tidak masak dulu, ajojing pending dulu, saya buka laptop sisa kerja semalam, mulai mengetik...



Feb-21-2013

No comments:

Post a Comment