Sepagi ini jam 6.00 teng,
ketika sekolah dulu sudah mandi dan pakai baju seragam. Sudah makan pagi dan
menunggu kiriman susu segar yang lemaknya membuat saya harus menutup hidung
karena tidak tahan dengan baunya. Ok, ready to go. Tapi biasanya sebelum sampai
di ujung komplek terdengar panggilan umi "belom bedakan ya dek? bedakan
duluuu". Tergopoh-gopoh, bedak bayi dipupurkan secara merata ke muka
Sepagi ini jam 6.00
teng, ketika kuliah dulu lagi siap-siapin bahan kuliah. Belum mandi dan gosok
gigi, apalagi makan pagi. Maklum anak kost, merasa bahagia dan bebas menentukan
waktu. Sarapan paporit adalah bubur madura, “makan di tsini dek?” dengan logat
madura kental. “Bubur setengah bang” sambil ngambil sate 5 tusuk. Nggak ada tuh
si susu segar pake lemak, jaman-jaman jahiliyah selesai sudah. Sampai di kampus biasanya “hmmm gw tau nih siapa yang dateng, Josi ya?” biasa sudah kentara bau bayinya. Saya hobi pake
bedak bayi di badan dan bukan di muka.
Sepagi ini jam 6.00 teng, ketika sudah menikah saya
kembali memiliki rutinitas pasti, membuka pager rumah untuk menyilahkan suami
bekerja lebih pagi. Setelah itu menyapu serakan daun-daun ketapang di depan rumah
dan siap-siap membereskan kamar. Meja rias sudah beberapa waktu tidak disentuh,
tidak ada perubahan, karena fungsi utamanya hanya untuk merias kamar bukan
untuk merias diri. Saya melihat beberapa alat kosmetik yang sudah dibeli dari
tahun lalu dan isinya masih saja penuh. Saya lihat ke dalam tas, bedak muka
dewasa berkurang setengahnya, kemajuan. Bedak bayi hanya untuk bayi, anak-anak
dan nenek-nenek. Bukan orang dewasa.
Kembali mengingat umi yang tentunya selalu berbedak
dan bergincu, memanggil dan selalu mengingatkan pentingnya perempuan merias
diri.
Saya tidak masak dulu, ajojing pending dulu, saya buka laptop sisa kerja
semalam, mulai mengetik...
Feb-21-2013
No comments:
Post a Comment