Tuesday, June 4, 2013

NaWilla dan Lupus

NaWilla, by Reda G

Crafting yang telah merajut saya dan NaWilla.

NaWilla itu adalah buku tentang keluarga, teman-teman dekat dan lingkungan tempat NaWilla tinggal. Begitu ringan dan sederhana, beberapa kali saya tergelak lepas dan sisanya tersenyum begitu saja. 

Setelah selesai, saya tercenung. Kapan ya terakhir kali membaca buku seringan ini? Oh ya, beberapa bulan lalu. Saya masih membaca Lupus. Jadi gini, kalau sudah habis bahan bacaan, atau lagi bosen saya membutuhkan "kopi" sebagai penetralnya melalui Lupus. Untuk mendedikasikan buku terbaik sepanjang masa ini, saya kasih nama kucing saya Lupus. 


Entah senasib atau tidak dengan Lupus yang juga terkenal dan fenomenal, hal yang sama juga terjadi pada Lupus kucing saya. Komplek saya yang sepi kucing tiba-tiba penuh sesak sama anak-anak kucing turunan Lupus. Keturunan Lupus sampai diimigrasikan ke kantor papa, ke rumah saudara, ke pasar-pasar. Keturunan Lupus merajalela. Tapi Lupus tidak kapok kawin, dia selalu saja mengikuti kata pheromonnya untuk bunting terus menerus.

Hai NaWilla, Hai Lupus, 2 buku yang memiliki benang merah akan makna ringan, jernih dan sederhana.

Tanya pada rumput yang bergoyang

Jatuh Cinta pada mu Sore
Kesengsem berat dengan mu Senja
Dan Kejora memampiri si Maghrib

Kesempurnaan itu milik Hati
Kebenaran itu Logika punya acara
Kegilaan Cinta itu hanya punya kita

Ngga percaya?
Rumput selalu bisa diajak bergoyang sayang.

Satu Kata: LAWAN!

PERINGATAN. 


.....
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!.
(Wiji Thukul, 1986)

Teringat, terulang kembali tragedi Mei 1998. Saya masih SMP ketika kakak perempuan saya dan teman-temannya merajut asa reformasi. Umi merapal banyak doa agar anaknya kembali dengan selamat. Asap rokok mengabut di ruang TV. TV di rumah tidak pernah hidup selama itu, 24 jam lamanya. Sekali waktu kakak mengabari lewat pesawat telepon "dia kena mi".."dia terluka".."doakan kita terus ya".."anak-anak menolak mundur"....

Lelah dan wanita, kakak saya akhirnya pulang ke rumah, disambut resah luar biasa oleh Umi dan Papa. Kakak saya menuruti panggilan pulang dari Papa karena melihat situasi yang semakin kacau, dan "...Kamu itu perempuan" tutup Papa di telepon. Saya bisa membayangkan kala perebutan kemerdekaan tahun 1945 dulu lebih kacau dari situasi ini. Kakak saya mandi dan berbenah diri, bersandar di meja telepon sambil mata terus mengarah ke TV. 

Sampai telepon itu berdering lagi untuk ke sekian kalinya...kali ini dia memasrahkan pantauan langsungnya kepada gagang telepon. Dan momen itu, ketika matanya mulai sembab, pundaknya berguncang dan akhirnya tangis itu lepas,

                                                                                    
"dia mati Mi, temen Ici mati...".


Gadis itu meraung-raung dalam pelukan Umi. "Kurang ajar, jahaat!!" 

Saya tegang, tergugu dan tidak bisa berkata bahkan menguraikan air mata. Kata-kata kasar tidak pernah keluar dari mulut kecilnya. Detik pahlawan telah lahir kembali.


Kemerdekaan itu Kejam....

Maka reguk dan reguklah kebebasan mu berbicara Wiji yang telah hilang,                               Keberadaan Mu, pelo, kini kembali dicari.
Suaramu kian mahal Wiji, mari kemari...
Jamur-jamur itu menunggu halusinasi bungkam, tirani yang harus tumbang
Karena dia lawan mu dalam berjuang

Alien


Dalam obrolan ringan, seorang kawan beragama melempar isu bahwa Tuhan itu tidak eksis. Semua kejadian demi kejadian terjadi karena kuasa Alien. Setelah mengatakan ini dia minta maaf kepada Nabi Muhammad, Allah, Bunda Maria, Budha dan terpenting Sang Hyang Widhi sambil memberikan senyum lebar.

Alien, saya masih setengah-setengah percaya. Karena di kumpulan benda langit terdekat dengan bumi, Saturnuspun belum terjamah untuk diteliti sampai ke dasar. Apalagi gugus Andromeda yang letaknya super jauh meskipun terhitung sebagai tetangga paling dekat Bima Sakti, -tempat Bumi dan Saturnus ada-. Jadi keberadaan Alien bisa jadi ada. Seperti penemuan beberapa tahun lalu di dasar laut, dengan panas mencapai 150 derajat, tidak ada oksigen, dan pemakaian bahan kimia beracun sekelas Methan sebagai salah satu bahan bakar kehidupannya, mustahal makhluk hidup bisa bertahan. Namun malah ditemukan organisme hidup yang mengandalkan kondisi itu, mereka bahkan bertetangga, berkecamatan dan berkota-kotaan.

Penelitian, laporan saksi mata, buku hingga film menimbulkan pro kontra tentang keberadaan Alien sampai sekarang. Informasi terakhir mengenai Alien saya dapatkan di film bergenre komedi berjudul "Paul". Paul adalah alien yang hidup di gugus Andromeda, dia ternyata sudah teken kontrak dengan "Amerika" sejak puluhan tahun silam untuk ikut berkontribusi memberikan informasi tentang alien, teknologi, kecerdasan dan lainnya. Dengan bertelanjang dada, memakai celana pendek dan sendal jepit, Paul tidak henti-hentinya merokok dan melucu sambil memberikan celetukan-celetukan ringan tentang keberadaan Alien, tentu dengan gayanya yang so Amerika. Paul juga punya kerjaan sampingan, dia ikut memberikan saran kepada salah satu sineas ternama yaitu Steven Spielberg dalam film E.T nya.

Steven, berkonsultasi dengan Paul untuk debut filmnya. Film E.T sukses besar.

Kembali ke rekan saya itu, dia percaya dengan keberadaan Alien yang super cerdas. Keberadaan manusia melalui kloning adalah salah satu bentuk teknologi "kuno" yang dimiliki alien untuk menciptakan kita, katanya. 

Kata saya "Kloningan memiliki keterbatasan akut. Dan hanya Tuhan yang sanggup membuat manusia berjiwa asli, bukan assun (asal suntik)...".
Lanjut saya, "Ya karena karena kloning terbatas akan sifat dasarnya saja, bukan pengalamannya", Dan Film tentang kakunya kloners diceritakan dengan bagus di "Cloud Atlas". 
Saya tutup "Titipkan aku 10 kloningan kamu, aku pasti minta tambah versi aslinya".

Dia tertawa ngakak sampai semburat merah di pipinya yang sawo matang terlihat. 
Jieee, GR.

Bangkrut Informasi



Seminggu lalu, saya pergi ke museum-museum di Jakarta. 2 museum saja tepatnya setelah berkurang dari target 3 museum karena Jakarta macret kacrut di mana-mana.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi dan Museum Sumpah Pemuda, Monas batal. 

Saya kirim pesan pendek kepada kawan sebelum berangkat "Hari ini mau menjelajah kaburnya sejarah proklamasi". Sejarah yang selalu tidak pernah terceritakan dengan baik. Sejarah yang compang camping di sana sini. Tertambal sulam dan benangnya selalu saja kusut. Saya membaca sejarah melalui perca cerita dari mulut ke mulut dan coretan-coretan lepas para penulis.

Setelah selesai menjelajah, hati saya panas, mata saya berdebu, kening saya berkerut. Sedih sekali rasanya. Saya kirim pesan lagi, "Menyedihkan saya baru tau kalau...." dan curhatan kekesalan ditutup dengan "apalagi yang saya nggak tau ya ". 

Ya, menyedihkan...saya penduduk aseli Jakarta tidak mengetahui keberadaan Museum ini. Saya sebagai rakyat yang mencicipi nikmatnya kemerdekaan hanya berfikir bahwa tempat ini hnayalah gedung tua kosong yang tidak bisa bercerita. Saya selalu merasa cukup tahu dengan cerita kelam sejarah bangsa ini, tempat-tempat bersejarahnya, dan barang antik di Jakarta. Tapi hanya untuk Gedung Sumpah Pemuda yang sederatan dengan kampus saya, yang dengan seringnya saya jalan ke kwitang dan muter-muter TIM sambil mampir sebentar di Jalan Surabaya membuat saya sudah merasa menggenapi daerah Tjikini yang Kramat.

Dia balas, "semakin kamu tahu banyak kamu akan semakin sadar sebenarnya yang kamu tahu tidak banyak. Semakin kamu tidak banyak tahu, semakin kamu tidak tahu bahwa kamu tidak tahu apa-apa"...Rasa sedih ini terus berlanjut, saya merasa mendadak bangkrut informasi. Terlebih informasi telanjang seperti ini. 

"pilih tahu atau tempe" tutupnya, saya balas "yang pasti bukan susu kedelai"...

KreotKreot


Siang ini Saya kelaparan, jadi saya melipir dulu ke warteg sebelum sampai kantor. 
Setelah menyapa orang seisi kantor, yang baru ada dua, saya lanjut buka bungkus makanan dan makan dengan semangat. Sampai ditanya "Makannya seru bener, makan siang atau sekalian sarapan?". Makanannya telor balado, tahu goreng, sayur toge dan krupuk. Nggak ada yang spesial, yang spesial hanya rasa lapar saya yang terlihat begitu memukau.


"kreot kreot" seperti mengikuti suara warga galia yang sedang berpesta celeng dalam suka cita

BB~BukuBagus~BukuBaik


Saya diajak Papa ke Taman Ismail Marzuki (TIM), ketemu dengan teman-temannya di warung makan, bertanya kabar sambil ketawa-ketawa sejenak. Papa saya ketika itu masih merokok dan ngopi. Semua teman-temannya juga sama, jadi asap rokok seperti kabut di daerah puncak. Dentingan gelas kopi bersautan dengan tawa-tawa lepas. Saya dari kecil sudah biasa menjadi perokok pasif. Menyedihkan. 

Menjelang pulang mampir dulu ke Bengkel Buku TIM, toko buku bekas. Saya langsung masuk dan liat-liat buku. Saya pribadi lebih suka cari buku ke toko buku bekas, terutama buku-buku yang tidak dicetak lagi atau buku yang dilarang terbit. Bentuk dan bau dari bukunya adalah waktu. Kertasnya kadang menguning. Semakin menguning kertasnya, untuk saya, buku itu semakin berharga. Kertas menguning itu seharusnya sudah melampaui banyak masa. 

Papa saya stand by di luar, asik ngobrol sama temennya yang lagi ngaso di dipan bambu depan bengkel bukunya. Setelah selesai ambil beberapa buku, saya keluar, siap membayar.

“iya nih, anak saya ulang tahun ke 17, katanya mau cari buku bagus di sini” kata papa.

“udah dapet buku bagusnya?” tanya si Om

Saya jawab, “lumayan Om”. Dia melihat beberapa buku yang saya ambil.

“tunggu sebentar ya”, si Om masuk ke tokonya sebentar dan keluar sambil bawa buku bekas, ukuran sedang, berwarna pink. “nih buku bagus” bukunya saya sambut, sambil bilang makasi. Saya lihat di cover bukunya ada gambar anak gembala, sambil megang sapi. Judulnya Anak Tani karya Laura Ingalls Wilder. Tipikal buku anak-anak seperti lima sekawan.

Di lembar depan Om Jose titip note “kedewasaan bukan berarti tidak menjadi anak-anak kan?selamat ulang tahun ke 17"...kira-kira begitu. Untuk kesekian kali, ungkapan bagus untuk buku dan notesnya adalah benar.

Beberapa waktu setelahnya, buku itu berpindah tangan dan hilang. Saya sedih karena saya ngga pernah lagi liat versi Anak Tani dalam bentuk bekas. Kalaupun dalam bentuk baru adanya seri Laura yang lain, dan sudah tercetak baru. Ceritanya pun sudah dibagi-bagi berdasarkan sub judul dan full gambar. Mana saya ngga hapal temanya apa aja. Saya bingung.

Tapi Tuhan itu baik, setelah mencoba mencari, Anak Tani sudah kembali dalam balutan sampul plastik keras walaupun tanpa note sweet seventeen di lembar pertamanya. Hanya tertera “property of Mrs. Susaan Manuel”.

Yes, buku bekas

When you are down to nothing, GOD is up to something -zen philosophy-