NaWilla, by Reda G
Crafting yang telah merajut saya dan NaWilla.
NaWilla itu adalah buku tentang keluarga, teman-teman dekat dan lingkungan tempat NaWilla tinggal. Begitu ringan dan sederhana, beberapa kali saya tergelak lepas dan sisanya tersenyum begitu saja.
Setelah selesai, saya tercenung. Kapan ya terakhir kali membaca buku seringan ini? Oh ya, beberapa bulan lalu. Saya masih membaca Lupus. Jadi gini, kalau sudah habis bahan bacaan, atau lagi bosen saya membutuhkan "kopi" sebagai penetralnya melalui Lupus. Untuk mendedikasikan buku terbaik sepanjang masa ini, saya kasih nama kucing saya Lupus.
Entah senasib atau tidak dengan Lupus yang juga terkenal dan fenomenal, hal yang sama juga terjadi pada Lupus kucing saya. Komplek saya yang sepi kucing tiba-tiba penuh sesak sama anak-anak kucing turunan Lupus. Keturunan Lupus sampai diimigrasikan ke kantor papa, ke rumah saudara, ke pasar-pasar. Keturunan Lupus merajalela. Tapi Lupus tidak kapok kawin, dia selalu saja mengikuti kata pheromonnya untuk bunting terus menerus.
Hai NaWilla, Hai Lupus, 2 buku yang memiliki benang merah akan makna ringan, jernih dan sederhana.
life is love
Tuesday, June 4, 2013
Tanya pada rumput yang bergoyang
Jatuh Cinta pada mu Sore
Kesengsem berat dengan mu Senja
Dan Kejora memampiri si Maghrib
Kesempurnaan itu milik Hati
Kebenaran itu Logika punya acara
Kegilaan Cinta itu hanya punya kita
Ngga percaya?
Rumput selalu bisa diajak bergoyang sayang.
Kesengsem berat dengan mu Senja
Dan Kejora memampiri si Maghrib
Kesempurnaan itu milik Hati
Kebenaran itu Logika punya acara
Kegilaan Cinta itu hanya punya kita
Ngga percaya?
Rumput selalu bisa diajak bergoyang sayang.
Satu Kata: LAWAN!
PERINGATAN.
.....
Apabila usul
ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam
kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!.
(Wiji Thukul, 1986)
Teringat, terulang kembali tragedi Mei 1998. Saya
masih SMP ketika kakak
perempuan saya dan teman-temannya merajut asa reformasi. Umi merapal banyak doa
agar anaknya kembali dengan selamat. Asap rokok mengabut di ruang TV. TV di
rumah tidak pernah hidup selama itu, 24 jam lamanya. Sekali waktu kakak mengabari lewat pesawat telepon
"dia kena mi".."dia terluka".."doakan kita terus
ya".."anak-anak menolak mundur"....
Lelah dan wanita, kakak saya akhirnya pulang ke
rumah, disambut resah luar biasa oleh Umi dan Papa. Kakak saya menuruti
panggilan pulang dari Papa karena melihat situasi yang semakin kacau, dan
"...Kamu itu perempuan" tutup Papa di telepon. Saya bisa membayangkan
kala perebutan kemerdekaan tahun 1945 dulu lebih kacau dari situasi ini. Kakak
saya mandi dan berbenah diri, bersandar di meja telepon sambil mata terus mengarah ke TV.
Sampai telepon itu berdering lagi untuk ke sekian
kalinya...kali ini dia memasrahkan pantauan langsungnya kepada gagang telepon.
Dan momen itu, ketika matanya mulai sembab, pundaknya berguncang dan akhirnya
tangis itu lepas,
"dia
mati Mi, temen Ici mati...".
Gadis itu
meraung-raung dalam pelukan Umi. "Kurang ajar, jahaat!!"
Saya tegang,
tergugu dan tidak bisa berkata bahkan menguraikan air mata. Kata-kata kasar
tidak pernah keluar dari mulut kecilnya. Detik pahlawan telah lahir kembali.
Kemerdekaan itu Kejam....
Maka reguk dan reguklah kebebasan mu berbicara Wiji
yang telah hilang, Keberadaan
Mu, pelo, kini kembali dicari.
Suaramu kian mahal Wiji, mari kemari...
Jamur-jamur itu menunggu halusinasi bungkam, tirani
yang harus tumbang
Karena dia lawan mu dalam berjuang
Alien
Dalam obrolan ringan, seorang kawan beragama
melempar isu bahwa Tuhan itu tidak eksis. Semua kejadian demi kejadian terjadi
karena kuasa Alien. Setelah mengatakan ini dia minta maaf kepada Nabi Muhammad,
Allah, Bunda Maria, Budha dan terpenting Sang Hyang Widhi sambil memberikan senyum lebar.
Alien, saya masih
setengah-setengah percaya. Karena di kumpulan benda langit terdekat dengan
bumi, Saturnuspun belum terjamah untuk diteliti sampai ke dasar. Apalagi gugus
Andromeda yang letaknya super jauh meskipun terhitung sebagai tetangga paling
dekat Bima Sakti, -tempat Bumi dan Saturnus ada-. Jadi keberadaan Alien bisa
jadi ada. Seperti penemuan beberapa tahun lalu di dasar laut, dengan panas
mencapai 150 derajat, tidak ada oksigen, dan pemakaian bahan kimia beracun sekelas
Methan sebagai salah satu
bahan bakar kehidupannya, mustahal makhluk hidup bisa bertahan. Namun malah
ditemukan organisme hidup yang mengandalkan kondisi itu, mereka bahkan bertetangga, berkecamatan dan berkota-kotaan.
Penelitian, laporan saksi mata, buku hingga film
menimbulkan pro kontra tentang keberadaan Alien sampai sekarang. Informasi
terakhir mengenai Alien saya dapatkan di film bergenre komedi berjudul
"Paul". Paul adalah alien yang hidup di gugus Andromeda, dia ternyata
sudah teken kontrak dengan "Amerika" sejak puluhan tahun silam untuk
ikut berkontribusi memberikan informasi tentang alien, teknologi, kecerdasan
dan lainnya. Dengan bertelanjang dada, memakai celana pendek dan sendal jepit,
Paul tidak henti-hentinya merokok dan melucu sambil memberikan
celetukan-celetukan ringan tentang keberadaan Alien, tentu dengan gayanya yang
so Amerika. Paul juga punya kerjaan sampingan, dia ikut memberikan saran kepada
salah satu sineas ternama yaitu Steven Spielberg dalam film E.T nya.
Steven, berkonsultasi dengan Paul untuk debut filmnya. Film E.T sukses besar.
Kembali ke rekan saya itu, dia percaya dengan
keberadaan Alien yang super cerdas. Keberadaan manusia melalui kloning adalah
salah satu bentuk teknologi "kuno" yang dimiliki alien untuk
menciptakan kita, katanya.
Kata saya "Kloningan memiliki keterbatasan
akut. Dan hanya Tuhan yang sanggup membuat manusia berjiwa asli, bukan assun
(asal suntik)...".
Lanjut saya, "Ya karena karena kloning
terbatas akan sifat dasarnya saja, bukan pengalamannya", Dan Film tentang
kakunya kloners diceritakan dengan bagus di "Cloud Atlas".
Saya tutup "Titipkan aku 10 kloningan kamu,
aku pasti minta tambah versi aslinya".
Dia tertawa ngakak sampai semburat merah di pipinya
yang sawo matang terlihat.
Jieee, GR.
Bangkrut Informasi
Seminggu lalu, saya
pergi ke museum-museum di Jakarta. 2 museum saja tepatnya setelah berkurang
dari target 3 museum karena Jakarta macret kacrut di mana-mana.
Museum Perumusan
Naskah Proklamasi dan Museum Sumpah Pemuda, Monas batal.
Saya kirim pesan pendek kepada
kawan sebelum berangkat "Hari ini mau menjelajah kaburnya sejarah
proklamasi". Sejarah yang selalu tidak pernah terceritakan dengan baik.
Sejarah yang compang camping di sana sini. Tertambal sulam dan benangnya selalu
saja kusut. Saya membaca sejarah melalui perca cerita dari mulut ke mulut dan
coretan-coretan lepas para penulis.
Setelah selesai menjelajah, hati saya panas, mata
saya berdebu, kening saya berkerut. Sedih sekali rasanya. Saya kirim pesan
lagi, "Menyedihkan saya baru tau kalau...." dan curhatan kekesalan
ditutup dengan "apalagi yang saya nggak tau ya ".
Ya, menyedihkan...saya penduduk aseli Jakarta tidak
mengetahui keberadaan Museum ini. Saya sebagai rakyat yang mencicipi nikmatnya
kemerdekaan hanya berfikir bahwa tempat ini hnayalah
gedung tua kosong yang tidak bisa bercerita. Saya selalu merasa cukup tahu
dengan cerita kelam sejarah bangsa ini, tempat-tempat bersejarahnya, dan barang
antik di Jakarta. Tapi hanya untuk Gedung Sumpah Pemuda yang sederatan dengan
kampus saya, yang dengan seringnya saya jalan ke kwitang dan muter-muter TIM
sambil mampir sebentar di Jalan Surabaya membuat saya sudah merasa menggenapi
daerah Tjikini yang Kramat.
Dia balas, "semakin kamu tahu banyak kamu akan
semakin sadar sebenarnya yang kamu tahu tidak banyak. Semakin kamu tidak banyak
tahu, semakin kamu tidak tahu bahwa kamu tidak tahu apa-apa"...Rasa sedih
ini terus berlanjut, saya merasa mendadak bangkrut informasi. Terlebih
informasi telanjang seperti ini.
"pilih tahu atau tempe" tutupnya, saya balas
"yang pasti bukan susu kedelai"...
KreotKreot
Siang ini Saya kelaparan, jadi saya melipir dulu
ke warteg sebelum sampai kantor.
Setelah menyapa
orang seisi kantor, yang baru ada dua, saya lanjut buka bungkus makanan dan
makan dengan semangat. Sampai ditanya "Makannya seru bener, makan siang
atau sekalian sarapan?". Makanannya telor balado, tahu goreng, sayur toge
dan krupuk. Nggak ada yang spesial, yang spesial hanya rasa lapar saya yang
terlihat begitu memukau.
"kreot
kreot" seperti mengikuti suara warga galia yang sedang berpesta celeng dalam suka cita
”
BB~BukuBagus~BukuBaik
Saya diajak Papa ke Taman
Ismail Marzuki (TIM), ketemu dengan teman-temannya di warung makan, bertanya
kabar sambil ketawa-ketawa sejenak. Papa saya ketika itu masih merokok dan
ngopi. Semua teman-temannya juga sama, jadi asap rokok seperti kabut di daerah
puncak. Dentingan gelas kopi bersautan dengan tawa-tawa lepas. Saya dari kecil
sudah biasa menjadi perokok pasif. Menyedihkan.
Menjelang pulang
mampir dulu ke Bengkel Buku TIM, toko buku bekas. Saya langsung masuk dan
liat-liat buku. Saya pribadi lebih suka cari buku ke toko buku bekas, terutama
buku-buku yang tidak dicetak lagi atau buku yang dilarang terbit. Bentuk dan
bau dari bukunya adalah waktu. Kertasnya kadang menguning. Semakin menguning
kertasnya, untuk saya, buku itu semakin berharga. Kertas menguning itu seharusnya sudah melampaui banyak masa.
Papa saya stand by di luar, asik ngobrol sama
temennya yang lagi ngaso di dipan bambu depan bengkel bukunya. Setelah selesai ambil
beberapa buku, saya keluar, siap membayar.
“iya nih, anak saya ulang tahun ke 17, katanya mau
cari buku bagus di sini” kata papa.
“udah dapet buku bagusnya?” tanya si Om
Saya jawab, “lumayan Om”. Dia melihat beberapa buku
yang saya ambil.
“tunggu sebentar ya”, si Om masuk ke tokonya
sebentar dan keluar sambil bawa buku bekas, ukuran sedang, berwarna pink. “nih
buku bagus” bukunya saya sambut, sambil bilang makasi. Saya lihat di cover
bukunya ada gambar anak gembala, sambil megang sapi. Judulnya Anak Tani karya
Laura Ingalls Wilder. Tipikal buku anak-anak seperti lima sekawan.
Di lembar depan Om Jose titip note “kedewasaan
bukan berarti tidak menjadi anak-anak kan?selamat ulang tahun ke
17"...kira-kira begitu. Untuk kesekian kali, ungkapan bagus untuk buku dan notesnya adalah benar.
Beberapa waktu setelahnya, buku itu berpindah
tangan dan hilang. Saya sedih karena saya ngga pernah lagi liat versi Anak Tani
dalam bentuk bekas. Kalaupun dalam bentuk baru adanya seri Laura yang lain, dan
sudah tercetak baru. Ceritanya pun sudah dibagi-bagi berdasarkan sub judul dan
full gambar. Mana saya ngga hapal temanya apa aja. Saya bingung.
Tapi Tuhan itu baik, setelah mencoba mencari, Anak
Tani sudah kembali dalam balutan sampul plastik keras walaupun tanpa note sweet
seventeen di lembar pertamanya. Hanya tertera “property of Mrs. Susaan Manuel”.
Yes, buku bekas
When you are down to nothing, GOD is up to
something -zen philosophy-
Subscribe to:
Comments (Atom)